Di era yang berkembang ini, kita semakin dipusingkan dengan kemajuan sistem pembelajaran di dunia pendidikan Indonesia. Seakan-akan metode pembelajaran ini menjadikan semrawutnya tata kelola pendidikan. Salah satu contoh sistem tersebut ialah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional "RSBI" (sekolah yang diangankan menjadi sekolah Internasional). Metode pengajaran pada sekolah ini menggunakan bahasa yang sudah Internasional pula yaitu Bahasa Inggris didalam setiap prooses pembelajaran. Hal positif tersebut dapat menjadikan geberasi Indonesia yang Hebat dalam berbahasa Internasional. Dengan demikian generasi muda Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lainnya di segala bidang. Dan ikut serta memajukan kesejahteraan bangsa melalui pendidikan yang berkualitas. Terkadang hal positif ini dibuat menjadi rusak akan rendahnya kemauan Sumber Daya Mmanusia untuk diajak maju dengan sistem yang Internasional. Proses yang rumit untuk menyampaikan materi kepada nak asuh sangatlah disayangkan. Karena dapat menghambat penerimaan materi ajara oleh peserta didik. Bahasa yang berberda dengan bahasa ibu kita itulah yanng menjadi hal terpenting dalam terhambatnya proses penyampaian matari didalam kelas. Ddisinilah mulai nampak hal-hal yang mengganjal berkembngnya pemhamanBahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan generasi muda berpendidikan. Selain itu di khawatirkan Bahasa Indonesia yang baku akan ternodai oleh bahasa-bahasa asing yang dapat merusak keindahan Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, maka diperlukan penggunaan Bahasa Indonesia didalam pengajaran siswa dikalangan sekoalh RSBI. Hal itu membantu terjaganya Bahasa Indonesia agar menjadi Bhasa Internasional pula. Dantidak begitu saja, kita dapat menambahkan bahasa Internasional disela-sela proses pengajaran atau penyampaian disaat menyampaikan materi. Agar peserta didik dapat maju dan mengerti tentang materi yang disampaikan oleh pengajar. Serta dapat bersaing dengan negar lain di Lingkungan Internasional. Semoaga Sumber Daya Manusia Indonesia sadar akan pentingnya Bahasa Internasiona :)
Mengisi Waktu Luangku :)
Perjalan ini memang menyesak dada. Tak tau harus bagaimana aku menutupi semua kisah ini. Semua sudah terlanjur terjadi dan telah sebagian perjalanan telah aku lalui. Mau tak mau ini harus aku jalani (walaupun terpaksa :) hahahaha ! tak tau entah apa yang telah merasuki jiwa ini, tibatiba banyak perubahan bagaikan POWERRANGER, huuuu aku harus bisa melewati rintangan dalam Kisah ini, aku tak tahu apa yang ada, aku tak mengerti apa itu, aku merasakan keanehan kisah hidupku di masa mudaku :)
Waktu selalu berlalu, detik-detik waktu semakin mendekat menuju ladang yang menentukan 3 tahun belajar di tingkat Sekolah Menengah Atas. Hal yang menjadikan momok para pelajar penerus bangsa, yaitu UJIAN NASIONAL.......
Inilah jadwal UJIAN NASIONAL Tahun 2013
DALAM setiap mata pelajarnya inilah PEMBAGIAN WAKTU dan JUMLAH SOAL
Sedikit Info yang cukup bermanfaat bagi kalian semua pelajar kelas 12 SMA :D
Soal Ujian Nasional tahun 2013 ini lebih khusus untuk Tingkatan SMP dan SMA sederajat akan menggunakan 20 paket soal dari tahun sebelumnya hanya 5 paket soal.
Pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini sedikit berbeda dengan Pelaksanaan Ujian Nasional tahun sebelumnya. Dimana untuk tahun Ini Peserta Ujian Nasional akan dihadapkan pada dua puluh Paket Soal dalam artian Lembaran Soal Siswa dalam satu Ruangan Kelas jika hanya ditempati 20 siswa maka soal tersebut tidak akan sama.
Hal tersebut dijelaskan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Minahasa Utara Maximelian Tapada Kepada Pacific Tv senin siang usai penyerahan Paket soal pra Ujian Nasional tingakt SMA Sederajat. Namun demikian menurut Tapada jumlah Paket soal Bukan Masalah jika siswa benar-benar belajar dengan baik sesuai dengan petunjuk para Guru bantuan Orang Tua dalam Pengawasan juga sangat diharapkan ketika Siswa berada Dirumah.
Mantan Kabag Humas ini juga mengatakan Pemantapan Ujian Nasional dan Pelaksanaan Ujian Nasional sudah dianggarkan sehingga tidak ada Pungutan apapun yang dibebankan kepada Para Siswa.
UJIAN NASIONAL MEMPRODUKSI KARAKTER PELAJAR TIDAK JUJUR, MALAS BACA , MUDAH NYONTEK DAN KORUPSI
Filed Under : by Yannis Poerdianto
Memang dunia pendidikan kita dikatakan carut marut, kusut dengan berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai. Para pakar selalu memikirkan bagaimana mengurai benang kusut ini, dari mana dimulai, simpul mana yang harus dibongkar? Depdiknas sudah berusaha melakukan perbaikan kurikulum, menatar guru-guru, membenahi distribusi buku, meninjau atau reevaluasi perbukuan, proyek perpustakaan, meningkatkan dana pendidikan, tapi semua ini belum membuahkan hasil yang diinginkan.
Seharusnyalah dunia pendidikan ini diserahkan kepada orang-orang yang ahli dibidangnya. Kita punya universitas pendidikan, fakultas pendidikan, sarjana pendidikan yang ahli dalam bidangnya, mereka harus terlibat dalam merumuskan pengelolaan pendidikan nasional. Serahkan segala urusan kepada ahlinya.
Tingkat produktivitas dunia pendidikan kita rendah, diukur dari berbagai aspek yang telah diungkapkan melalui berbagai survai dan penelitian. Proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan kita gagal, mendidik generasi muda bangsa menjadi generasi yang diidam-idamkan. Manusia tidak jujur dan korup lahir dari hasil pendidikan kita, setelah tamat mereka menjadi polisi, guru, dokter, sarjana hukum, sarjana teknik, pengusaha berbaur dengan lingkungan eksternal yang sudah rusak oleh generasi pendahulu.Penulis melihat perilaku NYONTEK dalam proses ujian adalah simpul yang amat strategis yang perlu dibasmi dalam proses ujian dunia pendidikan kita. Kita harus mengembangkan suatu budaya DILARANG KERAS NYONTEK dalam ujian, dan harus diberikan sanksi berat dan tegas tidak pandang bulu.
Sekarang coba perhatikan fenomena ujian yang dihadapi oleh murid-murid dari dari SD-SLTP-SLTA-PERGURUAN TINGGI S1-S2-S3- dan sebagainya selalu saja terbuka kesempatan, banyak peluang untuk nyontek. Murid sama murid nyontek, guru sama guru jika diuji juga nyontek, guru memberi kesempatan siswa nyontek, atau guru memberikan jawaban soal dalam ujian akhir nasional, siswa siswa-siswa S1, S2, S3 juga biasa nyontek. Dimana-mana selalu nyontek.
Kasus terakhir, kita baca, bahwa ada guru yang dilempari batu karena terlalu keras mengawas UAN, ini menyalahi prosedur dan kebiasaan yang berlaku. Selama ini pengawas harus pura-pura tidak tahu bahwa para siswa nyontek. Jadi harus ada toleransi dari pengawas dan ini sudah biasa.
Penulis pernah melakukan survei dan memberi angket kepada para mahasiswa sebanyak 55 orang, hasilnya sangat mengagetkan bahwa 100 % mereka pernah nyontek dalam ujian. Lebih separoh diantaranya sering dan seringkali menyontek.
Akibat dari nyontek ini sudah jelas akan muncul perilaku, atau watak, tidak percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau membaca buku pelajaran tapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan nyontek, potong kompas, menghalalkan segala macam cara, dan akhirnya menjadi koruptor.
Di negara maju, Amerika, Eropa, Australia, dsb. sangat ditekankan TIDAK DIBENARKAN NYONTEK dalam ujian. Barangsiapa kedapatan nyontek, maka ia akan dikeluarkan dari sekolah, dan cari sekolah lain yang sesuai. Hasilnya budaya jujur bisa terbentuk selama mereka mengalami proses pendidikan, dan lebih percaya diri. Proses ujian yang tidak membolehkan nyontek ini harus kita budayakan dilingkungan sekolah, dan perguruan tinggi, tidak ada peluang lagi untuk nyontek.
Alasan klasik mungkin muncul untuk membiarkan berkembangnya perilaku nyontek, yaitu murid kita terlalu banyak, dalam satu kelas ada 50 – 60 orang. Untuk mengatasi ini, maka murid harus dibagi dua kelompok, dan menggunakan dua ruangan, hal ini bisa diatur. Yang penting tidak ada lagi peluang untuk tidak jujur dalam ujian.
Pengaruh dari pelaksanaan ujian seperti ini ialah, siswa akan belajar giat, guru akan mengajar lebih serius, anak-anak akan rajin membaca, kegiatan siswa akan fokus pada pelajaran, bukan pacaran, bukan tawuran, mencuri, kenakalan remaja, bermain-main, tapi siswa mulai disiplin dan bertanggung jawab, dan orang tua tidak lagi mencampuri urusan pendidikan. Semua prestasi hasil belajar, adalah benar-benar ”murni” mencerminkan kemampuan anak-anak mereka. Selanjutnya UAN tidak akan dipersoalkan lagi, UAN menjadi hal yang biasa, UAN sangat diperlukan pengawasan yang ketat makin ditingkatkan, perilaku jujur akan menjadi budaya nasional kita khususnya budaya jujur dalam dunia pendidikan.
Nah mulai dari hal yang simpel ini, kita akan bisa membangun generasi anak bangsa menjadi membanggakan dan sesuai dengan yang kita idam-idamkan. Alangkah indahnya jika budaya tidak dibenarkan atau HARAM HUKUMNYA NYONTEK, NYONTEK SAMADENGAN MALING/ MENCURI mulai diterapkan di negara kita Ini suatu usaha mudah, dan hasilnya sangat maksimal, mari kita coba dibawah komando Depdiknas.
Siapapun yang pegang kekuasaan, cobalah penjuangkan, diskusikan dan deklarasikan mulai hari ini DIHARAMKAN NYONTEK DI SEKOLAH, ATAU DI DAERAH KITA. Bapak Mendiknas, Bapak Dirjen bisa deklarasikan ini untuk diberlakukan diseluruh NKRI, atau Kepala Diknas Prov.,Kab,/ Kota, ataupun Kecamatan bisa mendeklarasikan ini, kemudian diikuti dengan pengawasan pelaksanaannya.
Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan ujian itu sendiri, yang diawasi sekarang guru yang mengawasi ujian. Begitu dideklarasikan maka Indonesia akan geger, kita akan bangkit, menuju bangsa yang berbudaya jujur dan perilaku korup akan berkurang. Mudah-mudahan dengan demikian dunia pendidikan betul-betul akan mampu merubah perilaku generasi muda dan akan berpengaruh terhadap orang tua, para pemimpin yang akan mengakui eksistensi, otonomi, kemandirian dunia pendidikan yang mengutamakan proses pendidikan, melalui proses ujian yang mendidik lulusannya menjadi orang jujur, tidak korup, memiliki budaya malu, disiplin, bertanggung jawab, percaya diri, dan rajin membaca. Inilah “SIMPUL” yang selama ini dibicarakan dan belum terpecahkan.
CATATAN: Pemikiran diatas adalah pemikiran umum, yang saya angkat dalam sebuah paper sederhana, mudah dimengerti dan dipahami, disampaikan kepada semua pihak dan media massa. Mudah-mudahan ada yang tergugah dan yakin, bahwa bangsa Indonesia sulit “bangkit” tanpa merubah watak dan perilaku generasi muda melalui proses ujian demi ujian di sekolah yang jujur. Tidak ada lagi usaha mengkatrol nilai, tidak lagi dicari rumus-rumus agar siswa banyak lulus, tidak ada lagi usaha yang tidak lazim yang dilakukan oleh guru. Semua orang tidak takut lagi dengan UAN-UAN diperlukan.
Aku sering merasa kesepian. Selalu. Hidupku cuma terbentuk dari ruang 3×3 meter dengan pendingin ruangan yang sesekali meneteskan air karena bocor. Berkeliling tumpukan kertas yang terserak. Kabel yang semberaut. Air mineral. Dan tisu-tisu bekas yang belum juga masuk ke dalam tong-tong sampah terdekat. Sore kemarin. Di bawah teduh awan yang mendung, dalam langit yang mulai gelap dan menghitam, kepada seorang teman yang telah aku anggap dekat, aku katakan: AKU KESEPIAN. Aku katakan perasaanku tentang hati orang-orang, mereka yang mendekat saat kita menjadi hebat dan tidak ada yang mengunjungi saat kita bukan lagi apa-apa. Aku melihat manusia dengan sudut pandang yang sinis. Terkadang ironis. Hiperbola. Personifikasi. Oh, sudahlah, ini kita bukan bercerita tentang majas. Aku melihat manusia sebagai sekelompok makhluk yang hidup dari satu kepentingan kepada kepentingan yang lain. Saat dia perlu, dia hadir, saat tidak, maka semuanya serasa sampah. Tidak semua memang. Sebagian hadir dalam wujud yang tulus, namun kebanyakan memang demikian praktiknya. Sosokmu ada karena kamu itu dianggap penting. Kepada temanku itu, aku katakan juga bahwa temanku tidak banyak. Aku tidak tahu harus mengeja nama siapa saat aku berada di dalam lubang sunyi itu. Sedari dulu, aku hidup di dalam dunia yang begitu sepi. Teman-teman terbaikku, tidak hadir dalam jarak yang berdekatan, kecuali cuma sedikit dari mereka. Aku butuh banyak orang yang berkumpul bersamaku bukan karena mereka sedang membutuhkan aku, namun aku ingin seseorang yang memang menjadikannya aku sebagai teman yang mereka sayangi. Masalahnya adalah aku ini pemalas. Aku malas membina hubungan, aku malas untuk memulai. Aku terlalu takut, gugup, tidak percaya diri untuk mulai memberikan tangan sebagai awal mula persahabatan. Sebangsa, aku ini pecundang. Di kedai-kedai kopi, saat aku duduk, aku menatap ke mata orang-orang, berusaha mengeja setiap detail retina mereka, melihat tentang masa-masa yang mereka habiskan dalam hidup. Apakah ada kesetiaan di sana, ketulusan, kesetiakawanan. Apakah senyum dan tawa mereka, itu hadir dari sekian tahun persahabatan atau cuma terbentuk dari suatu hubungan yang sarat kepentingan. Aku iri dengan orang-orang yang hidup dengan banyak teman. Orang-orang yang selalu dibantu oleh kebanyakan orang. Aku kesepian. Di antara milyaran manusia, mungkin teman baikku cuma mampu dihitung dengan jemari tangan. Aku memang tertutup, tetapi bukan justifikasi bahwa aku tidak membutuhkan orang-orang, terlebih sebenar-benarnya seorang teman.
Siapa yang Melihat
Jalan Hidup
Jika Kau Lupakan Sang Ilahi,
Hidupmu Pasti merugi,
Jika Kau Tak Berserah Diri,
Hidup Hanya Sementara,
Jangan Kau Buang Waktu Percuma,
Hidup Takan Selamanya,
Perbanyak Amal Kebaikan,
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Kenanganku
Tentangku Tentang Diriku
- Yannis Poerdianto
- Aku adala Saya, Sedangakan Ia adala Mereka, Kucoba hal yang baru, yang dapat menguntungkan ku dan orang dsikatar ku
Wp Theme by Promiseringsdesigns | Blogger Template by Anshul